Senin, 14 November 2016, 14:17

PELEMBAGAAN DA’I ADALAH SOLUSI PROBLEMATIKA DAKWAH

Oleh : Thalib Manhia, S.Sos.I

Dai adalah isim fail (satu nama sebagai pelaku) dari pekerjaan daa, yadu, yang memiliki banyak makna sepadan, misalnya: to call (memanggil), to invite (mengundang), to summon (mengajak), to propose (menyeru), to urge (mendorong) atau to pray (memohon); sehingga pekerjaan itu lahir dalam bentuk kata dawatan (suatu nama dasar dari pekerjaan dakwah), maka Dai adalah pelaku dari pekerjaan yang disebut dakwah.

Berbicara mengenai dakwah, Prof. Toha Yahya Omar, M.A. menjelaskan bahwa dakwah adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan, untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.

Prof. A. Hasjmy menjelaskan bahwa Dakwah Islamiyah yaitu mengajak orang lain untuk meyakini dan mengamalkan aqidah dan syariah Islamiyah yang terlebih dahulu telah diyakini dan diamalkan oleh pendakwah itu sendiri.

Syaikh Ali Mahfudz menjelaskan bahwa, dakwah adalah Memotivasi manusia untuk berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dalam kitab dakwah disebutkan hakikat dakwah Ilallah (kepada Allah) adalah mengingatkan, mengajak dan menyeru manusia lain kepada agama-Nya yang berasas pada ibadah kepada Allah swt. tanpa membuat sekutu bagi-Nya sebagaimana pokok dakwah para rasul dan kitab-Nya. Firman Allah swt.

"Dan sungguh telah Kami utus pada setiap umat seorang rasul untuk menyerukan beribadahlah kepada Allah dan jauhilah thaghut,". (QS. an-Nahl [16]: 36).

Dakwah para nabi hanya satu, sedangkan yang berbeda adalah syari'at dan manhaj mereka. Semua nabi diutus untuk mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari kekafiran kepada iman, dari kesesatan kepada hidayah untuk menyelamatkan mereka dari neraka dan dari setan dan membebaskan mereka dari ketundukan kepada hawa nafsu dan menghambakan diri kepada syahwat menuju ketaatan kepada Allah swt. dan mengikuti Rasul-Nya yang menjamin kebahagiaan dalam agama dan kemenangan di akhirat.

Uraian pengertian dakwah di atas, menyatakan pentingnya aktifitas dakwah bagi umat manusia, sebab mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat dapat diraih melalui kegiatan dakwah, semakin banyak dai tentu menjadi peluang bagi tumbuhnya kegiatan dakwah, dan maraknya kegiatan dakwah akan menyediakan ruang yang luas bagi manusia mencapai kebahagiaan hidupnya semasa di dunia bahkan di akhirat kelak.

Sebaliknya, sudah dapat dibayangkan, bahwa: jika kegiatan dakwah kurang, maka semakin sempit ruang kebaikan bagi manusia, semakin tidak jelas kebaikan di antara keburukan, sesuatu yang hak di antara kebatilan, ilmu pengetahuan di tengah kebodohan, dan akhirnya semua orang akan berbicara bahkan persoalan agama meskipun tanpa dasar pengetahuan sedikitpun; sehingga kebodohan akan meliputi kehidupan manusia.

Kurangnya kegiatan dakwah tidak akan terjadi, kecuali jika jumlah dai semakin berkurang atau setidaknya menjadi tidak sebanding dengan jumlah umat, sebagai indikasi bahwa jumlah dai dapat disebut sedikit. Persis apa yang disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo, Bapak Dr. H. Rusman Langke, M.Pd. beberapa pekan yang lalu, melalui Radio Republik Indonesia Gorontalo.

Menyikapi kerisauan Kakanwil Kemenag Provinsi Gorontalo tentang jumlah dai yang sedikit, analisa sederhana menyatakan bahwa: kurangnya jumlah dai di Provinsi Gorontalo bisa saja diakibatkan oleh tiga factor utama:

1. Pengkaderan dai yang berjalan lamban,
Meskipun pengkaderan dai dilaksanakan tetapi jika belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan dan perkembangan penduduk, maka jumlah dai masih juga Nampak sedikit.

2. Tidak ada pengkaderan,
Tidak adanya orang atau lembaga yang melakukan pengkaderan dai untuk provinsi ini akan mempertahankan posisi jumlah yang sedikit bagi dai, sehingga meskipun sampai dengan hari ini jumlah dai belum berkurang, tetapi karena jumlah umat bertambah dengan cepat, maka dai dengan sendirinya tetap sedikit.

3. Sabotase
Jika ada oknum yang sengaja melakukan sabotase ruang gerak dai lainnya, atau sabotase terhadap upaya pengkaderan dai maka hal ini mendorong percepatan pengurangan jumlah dai sehingga jumlahnya menjadi lebih sedikit.

Pengkaderan dai di Gorontalo bukannya tidak ada, tetapi karena kebanyakan dai - dai pemula belum memiliki keberanian untuk berdakwah, belum banyak dikenal umat, karena mereka memang belum memiliki brand (merek), belum lagi tindakan sabotase yang dilakukan oleh orang-orang tertentu yang pada akhirnya ikut memperburuk keadaan.

Para dai pemula ini, biasanya tidak diberikan kesempatan yang kedua atau ketiga kalinya untuk berdakwah ditengah masyarakat karena beberapa alasan, misalnya: dipo moodelo (belum bisa menjiwai dan mengamalkan) apa yang didakwahkan, mobulilo (banyak kekurangan, kekeliruan, tidak berkualitas), dalam penyampaian, bahkan ada yang tidak diizinkan berdakwah hanya karena persoalan pribadi, misalnya: tidak ingin disaingi, tidak akur, tidak sepaham, tidak seorganisasi, atau alasan lain yang intinya tidak mengizinkan dai-dai pemula untuk melakukan kegiatan dakwah.

Masih ada-ada saja dai senior yang tidak mau tersaingi dalam profesinya sebagai dai , akibat dari sikap rakus dan tamaknya terhadap harta dan kehidupan dunia yang tumbuh subur di dalam hatinya karena kegagalannya membina kepribadian dengan sifat qonaah.
Dai seperti itu sering menampakkan sifat buruknya yang tidak ikhlas menjadi seorang dai dengan menyebut-nyebut juga membanding-bandingkan isi amplop alias sedekah yang dia peroleh dari siapa yang mengundangnya. Tindakannya yang lebih ekstrim lagi adalah memasang tarif sedekah atau minta dihargai dengan nominal yang dia sengaja sebutkan saat ceramah sedang berlangsung, subhaanallah ini adalah penampakan dai matre yang terang-terangan.

Pertanyaan yang perlu dijawab terkait dengan upaya sabotase, adalah : Apa Untung dan Ruginya, Jika Dai di suatu daerah jumlahnya sedikit,? Siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan.?

Teori ekonomi menegaskan bahwa besarnya permintaan terhadap sedikitnya suatu barang yang tersedia akan melejitkan harga barang menjadi sangat mahal, bahkan bisa saja melampaui kondisi harga tertinggi sehingga menjadi tidak logis. Teori ini dihafal betul oleh para pebisnis, dan ketika teori ini difahami oleh dai, maka kondisi dai yang sedikit akan memberikan keuntungan financial kepada dai yang sudah lebih dahulu ada, karena memiliki posisi tawar yang lumayan menguntungkan, maka keuntungan di pihak dai dan kerugian di pihak umat.

Keberatan dengan kerugian yang dialami akibat ulah oknum dai, maka umat dapat mengadu kepada pemerintah dan penegak hukum yang ada di daerahnya agar keadilan dapat ditegakkan. Tetapi jauh sebelum tindakan lapor-melaporkan, adu mengadukan itu terjadi, sebaiknya ada upaya preventif (pencegahan) oleh pemerintah, terkait dengan kurangnya dai. Misalnya melembagakan dai di bawah Kementerian Agama atau di bawah Majelis Ulama Indonesia, maupun memberikan kesempatan kepada dai untuk memiliki lembaga sendiri namun tetap dalam pengawasan pemerintah dan diberikan hak-hak kesejahteraannya dari Negara, sementara dai melakukan tugasnya dengan Ikhlas dan penuh tanggung jawab, tanpa harus mengemis sedekah kepada umat jelata.

Banyak manfaatnya yang bakal diperoleh, jika dai telah dilembagakan dan diberi gaji oleh Negara, diantaranya:
1. Jumlah dai pasti akan selalu cukup untuk umat, setidaknya tidak kurang.
2. Tidak akan ada tindakan sabotase,
3. Dai akan lebih berkualitas karena profesi yang ditekuninya,
4. Kegiatan dakwah dapat diatur melalui penjadwalan, dai pelaksana dan prioritas materi yang akan disampaikan,
5. Hasil dakwah dapat diukur melalui pemantauan dan evaluasi hasil kinerja dai,
6. Pelayanan kepada umat akan mudah karena terpusat pada satu lembaga.

Dai adalah penuntun umat ke jalan yang diridhai Allah swt. Maka keberadaan dai menjadi penting di tengah umat beragama. Dari waktu ke waktu zaman selalu berkembang dan budaya selalu berubah, tersingkirnya budaya agama dari umat dapat disebabkan oleh banyak factor, dan peran dailah yang menjaga budaya dalam ajaran agama agar tetap lestari dan berkembang mengintari perkembangan zaman.

Ketika tugas dai dalam berdakwah menjadi sangat penting untuk menjaga dan menjadi benteng akhlak bangsa, maka tidak berlebihan jika mereka mendapatkan penghargaan dan pendapatan setimpal sekedar biaya hidup bersama keluarga mereka. (*)