Jumat, 9 Desember 2016, 14:15

MENYIBAK PROSESI ADAT PERNIKAHAN GORONTALO

Oleh : Maryam Hamid

(Kasubbag Informasi dan Humas Kanwil Kemenag Prov. Gorontalo)

Gorontalo adalah provinsi ke-32 di Indonesia yang sebelumnya merupakan wilayah Kabupaten Gorontalo dan Kota Madya Gorontalo di Provinsi Sulawesi Utara, terletak pada bagian utara Pulau Sulawesi, tepatnya pada 0,19' 1,15' LU dan 121,23' 123,43' BT. Letaknya sangatlah strategis, karena diapit oleh dua perairan (Teluk Tomini di selatan dan Laut Sulawesi di utara).

Seiring dengan munculnya pemekaran wilayah berkenaan dengan otonomi daerah, Provinsi ini kemudian dibentuk berdasarkan Undang- Undang Nomor 38 Tahun 2000, tertanggal 22 Desember Tahun 2000.

Masyarakat Gorontalo dikenal sebagai masyarakat yang memegang teguh adat Falsafah Gorontalo "Adat bersendi Syara, Syara bersendi Kitabullah" yang mengandung makna adat berdasarkan pada syariat. Dan Syariat berdasarkan pada Kitabullah merujuk kepada Al-Qur'an dan tradisi Nabi (Al-Sunnah).

Provinsi kedua terbungsu di pulau Sulawesi (setelah Sulawesi Barat) ini, merupakan salah satu kelompok etnik diantara suku bangsa yang ada di Indonesia, memiliki Upacara adat istiadat yang cukup banyak, yang dipelihara dan dipertahankan secara turun temurun. Upacara adat dimaksud terbagi dalam beberapa bagian, sebagai berikut :

I. Tata Upacara Adat Hari-hari Besar Islam (Pohutu Du'a Lo Ulipu)

a) Tata Upacara Adat Tahun Baru Islam 1 Muharam (Pohutu Taawunu
Lo Isilamu)
b) Tata Upacara Adat Shalat jum'at (Pohutu lo Duma'ati)
c) Tata Upacara Adat Asyura, 10 Muharam (Pohutu lo Asuura)
d) Tata Upacara Adat Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal
(Pohutu lo Paliilati)
e) Tata Upacara Adat Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW 27 Rajab
(Pohutu lo Me'eraji)
f) Tata Upacara Adat Nisfu Sya'ban, 15 Sya'ban (Pohutu lo Nisibu)

g) Tata Upacara Adat Awal dan Akhir Ramadhan (Pohutu Bohulio wau
Pulitio lo Lamalani/Tonggeyamo)
h) Tata Upacara Adat Doa Qunut 16 Ramadhan (Pohutu lo Kuunu)
i) Tata Upacara Adat Turunnya Al-Qur'an 17 Ramadhan (Pohutu
Tahutio lo Kuru'ani)
j) Tata Upacara Adat Lailatulkadri 27 Ramadhan (Pohutu Lo
Lailatulkadari).
k) Tata Upacara Adat Hari Raya Idul Fitrih, 1 Syawal (Pohutu lo lidi)
l) Tata Upacara Adat Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijah)

II. Tata Upacara Adat Penyambutan Tamu Daerah (Pohutu Motimamango) III. Tata Upacara Adat Penjemputan dan Pengantaran (Pohutu Molo'opu) IV. Tata Upacara Adat Penobatan (Pohutu Momulanga)
V. Tata Upacara Adat Pernikahan ( Pohutu Moponika) VI. Tata Upacara Adat Pemakaman (Pohutu Molalungo

Sekian banyak Upacara adat di atas, terdapat salah satu upacara adat yang dianggap suci dan agung yang mempunyai beberapa tahapan pelaksanaan, adalah "Tata Upacara Adat Pernikahan" yang melalui tahapan-tahapannya (Lenggota lo nika) yang dilalui sebelum, saat dan sesudah acara pokok (Aqad Nikah). Tahapan proses pernikahan ini, bukan dibuat untuk memperlama atau memersulit pernikahan, tetapi semata- mata bertujuan agar kedua calon suami isteri dapat merasakan apa makna pernikahan yang ditandai oleh perjuangan dan kerja keras.

14 (empat belas) tahapan Lenggota lo nika yang dilalui dalam proses adat pernikahan, menjadi Kiprah Budaya untuk tahap perdana pada Salam edisi XIII Tahun 2014 ini, adalah sebagai berikut :

1. Mongilalo (Mengenal/menilik calon menantu)
2. Molenilo / Mohabari (memperlancar jalan/mencari kepastian)
3. Moduulohupa (musyawarah orang tua kedua belah pihak)
4. Baalanga (penyampaian hari pelaksanaan peminangan)
5. Tolobalango (Peminangan)
6. Dutu (Hantaran adat harta pernikahan)
7. Dilonggato (mengantarkan konsumsi pesta pernikahan)
8. Mopotilantahu (malam pertunangan)
9. Akaji (Aqad Nikah)
10. Mopopiipidu (sanding pengantin)
11. Modelo (membawa pengantin ke rumah orang tua mempelai pria)
12. Mopotuluhu (menidurkan mempelai wanita / Mohuopo)
13. Mopo'a / Mopelu (mengantarkan makanan dan minuman kepada kedua mempelai dari rumah orang tua mempelai pria)

14. Mohama (menjemput kedua mempelai untuk tidur di rumah orang tua mempelai pria).

Tahapan-tahapan di atas erat hubungannya dengan sistem norma yang masih tetap dipertahankan meskipun telah terjadi penyesuaian- penyesuaian dengan perkembangan pemikiran masyarakat Gorontalo.

5 (lima) dari tahapan dimaksud akan disaji dalam artikel budaya edisi perdana ini, dan secara berkelanjutan akan disambung pada edisi berikutnya, sebagai berikut

Tahap Pertama,Mongilalo adalah kunjungan pertama oleh kedua orang tua sang jejaka ke rumah orang tua sang gadis sebagai perkenalan dari kedua belah pihak dan utamanya untuk mengenal kepada sang gadis yang bakal menjadi menantu. Tahap ini bertujuan untuk mengetahui perangai sang gadis seperti sikapnya, cara berpakaian dan kegiatannya ketika diadakan peninjauan tersebut. Dahulu, peninjauan ini dihubung-hubugkan dengan alam sekiitar. Jika dalam peninjauan itu, sang gadis sedang duduk atau berdiri dan menghadap timur atau utara, hal itu menandakan bahwa gadis tersebut bersikap baik. Lebih baik lagi kalau sigadis kebetulan menghadap para peninjau, menandakan bahwa perkawinan akan bahagia. Sebaliknya bila sigadis menghadap ke Barat atau ke Selatan, menandakan bahwa gadis tersebut sebaiknya jangan dinikahi karena hal itu telah menandakan kesialan. Demikian pula cara berpakaian dan cara menata rambut. Bila sigadis dijumpai dalam keadaan rambut terurai, menandakan bahwa sigadis tersebut pemalas, mengurus diripun tidak mampu. Paduan warna pakaian bila tidak serasi dengan warna kulit menandakan bahwa sang gadis kurang teliti, tidak terampil dan tidak cakap mengurus diri. Bila peninjauan dilaksanakan setelah Ashar dan sang gadis dijumpai sedang tidur, menandakan sang gadis adalah pemalas.

Hal-hal terkait tahapan mongilalo, telah ditinggalkan orang di zaman sekarang, karena sang gadis dan si jejaka sudah sering bertemu bahkan sudah sering diizinkan keluar bersama-sama. Namun hal yang berhubungan dengan kegiatan dianggap sangat menentukan. Terbukti dengan nasihat orang tua kepada anaknya untuk menganjurkan mencari pasangan hidup yang banyak kegiatannya, banyak karya, pololohe o taa okaraja ( carilah orang yang mempunyai karya atau pekerjaan).

Tahap Kedua, Molenilo / mohabari adalah kunjungan orang tua sang jejaka ke rumah orang tua sang gadis dengan maksud untuk mengetahui apakah sang gadis yang ingin dipersunting anaknya belum memiliki calon pasangan hidup. Kunjungan ini dilakukan oleh kedua orang tua laki-laki

secara rahasia kepada kedua orang tua perempuan. Kedatangannya tidak diberitahukan kepada orang tua perempuan karena kunjungan ini merupakan kunjungan tidak resmi tetapi sangat menentukan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan pernikahan.

Tahap Ketiga, Lenggota Modulohupa adalah tahap bermusyawarah antar kedua belah pihak, membicarakan tentang besarnya biaya yang harus disiapkan oleh orang tua sang jejaka dalam pelaksanaan pernikahan serta tata upacara adatnya. Dalam tahapan ini, biasanya pihak orang tua sang gadis tidak mengungkapkan permintaannya. Orang tua sang jejaka yang dipersilahkan mengungkapkan kemampuannya. Setelah mendengar ungkapan jumlah yang disampaikan oleh orang tua sang jejaka, orang tua sang gadis akan mengungkapkan jumlah yang diinginkannya dengan istilah "mootola wawu moodelo" yang maksudnya kemampuan orang tua sang jejaka masih akan dipertimbangkan dan permintaan orang tua sang gadis masih akan dipikirkan. Pada musyawarah seperti ini, orang tua sang jejaka akan menentukan kapan akan balik lagi sebagai pertanda akan beroleh kesepakatan untuk memfinalkan biaya pernikahan. Namun bila orang tua sang jejaka tidak balik lagi, pertanda pembicaraan tidak jadi. Bila telah terjadi kesepakatan maka orang tua si jejaka akan mengutus beberapa orang untuk menyampaikan baalanga (penyampaian ketentuan hari peminangan). Tenggang waktu menunggu hari peminangan oleh kedua orang tua sang gadis dimanfaatkan untuk menghubungi sanak keluarga.

Tahap Keempat, Baalanga, adalah penyampaian hari peminangan oleh utusan orang tua sang jejaka, terdiri dari seorang bapak dan seorang ibu serta seorang anak laki-laki yang mebawa wadah (tapahula) yang dibungkus dengan kain putih berisi sirih dan pinang. Sehari sebelumnya diutus seseorang untuk menyampaikan bahwa besok hari akan datang Baalanga, sehingga orang tua sang gadis akan mengundang beberapa orang keluarga dekat untuk menunggu keluarga sijejaka. Acara ini biasanya dilaksanakan seminggu sebelum pelaksanaan acara peminangan.

Tahapan kelima adalah Motolobalango, adalah merupakan forum resmi yang dihadiri oleh sebagian besar keluarga dari kedua belah pihak serta disaksikan oleh Pemerintah (Kepala Desa/Lurah), karena pada acara ini seluruh ungkapan dalam pembicaraan adalah formil. Acara motolobalango ini lazimnya diadakan pada waktu sore hari.

Pada acara ini orang tua sang jejaka mengutus beberapa orang pemangku adat (utolia layio) dengan berpakaian adat didampingi oleh keluarga terbatas yang berpakaian baju lengan panjang dan songkok, sedang ibu-ibu

memakai kebaya dan sarung/batik. Demikian pula orang tua sang gadis mewakilkan kepada kompisisi yang sama dengan personil yang berbeda.

Istilah motolobalango dimaksud adalah tahap menghubungkan keluarga antara pihak laki-laki dengan pihak perempuan. Acara ini dihadiri oleh keluarga terdekat baik oleh rombongan keluarga laki-laki maupun keluarga perempuan.

Rombongan pihak laki-laki yang dipimpin oleh utolia (utusan) mendatangi rumah pihak orang tua perempuan. Utolia dari pihak laki-laki disebut utolia lundu dulungo lai'o (huhuluta) dan di pihak perempuan ti utolialundu dulungo wolato. Pihak laki-laki membawa pinang, gambir, sirih dan tembakau yang diisi di tapahula dan dibungkus dengan kain warna adat yang selanjutnya diterima oleh keluarga perempuan. Kedua belah pihak duduk beralaskan tikar/permadani sambil duduk berhadap-hadapan.

Pada pelaksanaan musyawarah motolobalango ini berlangsung percakapan antar juru bicara pihak keluarga laki-laki dan perempuan berkaitan dengan keberadaan jati diri sang gadis dan kesepakatan-kesepakatan waktu pelaksanaan pernikahan sekaligus pembiayaan pernikahan. Percakapan ini berbalas pantun yang panjang dalam syair tujai-tujai.

Pada akhir kesepakatan pembicaraan, juru bicara keluarga pria mengungkapkan : "Ito wau watotiya, huhuluta utoliya, malodaadaatiya, topiduduto loiya, lo taa kohuuwaliya, humaya delo hutiya, buta'o didu motiya, tonulalo uyilo'iya, diila bolo mukiriya meyambula mohuliya. Maksudnya : Saudara dan saya, keduanya sebagai juru bicara, kini berjabatan tangan, apa yang telah dituturkan, kedua belah pihak, andai kata laksana rotan, dibelah tak akan terpisah, apa yang telah dibicarakan, jaga jangan sampai putus atau terbelah.

Juru bicara keluarga Perempuan membalas percakapan : Watotiya wao ito, ode tola ngobotu layito, made pilutu lo pito, lalango de molonito, tonulalo uyilulito, diila pomukiri ito. Maksudnya : Saya dan saudara laksana seekor ikan yang utuh, dipotong dengan pisau, dibakar berbau sedap, apa yang diungkapkan Insya Allah tidak dipungkiri.

Pembicaraan dalam acara peminangan telah usai, para tamu dari kedua belah pihak keluarga disuguhi minum dengan mendahulukan Taa Tobuluwo dan tamu dari phak keluarga pria. Setelah minum, kaum ibu yang menyertai rombongan keluarga pria melalui juru bicara memohon izin untuk menengok calon pengantin wanita (dalam bahasa adat "molile") yang disampaikan kepada juru bicara keluarga wanita dengan ungkapan :

"Owuluwo lo mongotilandlo wolo monguwutatondlo wolamiyatiya mayi botiya, ohila molile to banda molehile molile molilo'o alihu didulu taa molulo'o - donggo tilaoolo potala maa tiyo tiyolo donggo bilohelo potala maa taa boti- botiyelo. Maksudnya : Para kaum Ibu yang menyertai rombongan, kami ingin menengok calon mempelai wanita. Menengok dan melihat agar jangan ada yang menukar akan dilihat dengan teliti untuk meyakinkan akan diperhatikan dengan seksama untuk memastikan orangnya. Juru bicara kaum wanita menjawab : Toduwolo ito moliloo ti yalaondlo mayito hulo huloo wawu amiyatiya mohe molulo'o bolopoobilohelo debo maa taa tobotiyelo bolo pootiloalo debo maa taa tabotiyalo. Maksudnya : Silahkan saudara menengok, calon mempelai duduk dan siap, kamipun tak berani mengganti. Perhatikanlah dengan seksama untuk meyakinkan serta pandanglah dengan teliti sudah dialah orangnya.

Kaum Ibu rombongan kaum pria beranjak ke kamar calon mempelai wanita sambil membawa sebuah wadah yang berisi uang satu real dan diserahkan kepada nenek atau bibi yang mendampingi calon mmpelai wanita di dalam kamar.

Kemudian juru bicara keluarga calon mempelai laki-laki mohon diri untuk pamit kembali kerumah bersama rombongan, dengan kata-kata tujai, sebagai berikut :"Taheliyo pilututo-pitolo upilolihuto amiyatiya moliyodupo-meyambola mohindupo-bolo dahayi wadupo-topitolo biluhuto- dedutu oumomiduduto. Dila bo mei polondulo-bo uhuyi maa dudulo-wanu ma polondulolo-debo maa odi oditolo tu'udu donggo mola wungguliyolo-to taa lei binggolo". Maksudnya : semua penuturan telah disepakati, jabatan tangan untuk kembali, jagalah pihak yang mengacaukan pada pembicaran yang telah disepakati penghantaran harta pernikahan yang memastikan, bukanlah minta disuruh pulang tapi waktu malam makin dekat, apabila disuruh pulang tindakan itu sudah tepat karena masih akan menyampaikan pada keluarga yang mengutus. Juru bicara keluarga wanita menjawab : Utoliya lo bunggudu monguli motinguudu dila bou polondulolo bo olamiyatiya olo debo donggo woluo uwungguliyolo ode mongodulaa lo taa maa bilinggolo polo utiya wawu hayao lo pitolo bo maapuwolo tanu tombulu donggo popotolimoolo. Maksudnya : Utusan yang datang sudah bisa kembali, bukanlah menyuruh pulang, bagi kamipun masih akan menyampaikan kepada keluarga yang diwakili hal-hal yang telah disepakati dan besarnya biaya yang akan diadakan, tapi maaf sebelumnya kami akan menyampaikan dulu sedeqah.

Pelaksanaan pendistribusian sedeqah dari keluarga calon mempelai wanita mengakhiri tahapan kelima lenggota lo nika, motolobalango. Hal penting dari seluruh rangkaian adat lenggota lo nika adalah bahwa seluruh pelaksanaan adat pernikahan tidak mengganggu waktu pelaksanaan shalat. Dan untuk pencantuman nama hari pelaksanaan pernikahan adalah hari Ahad (bukan Hari Minggu) bila jatuh pada hari tersebut.

Adat bersendi syara dan syara bersendi Kitabullah mewarnai pelaksanaan rangkaian lenggota lonika di daerah Provinsi Gorontalo. Saat ini Tata Upacara Adat Pernikahan, pelaksanaannya masih sangat melekat dikalangan masyarakat, hingga Gorontalo masuk dalam 19 wilayah adat di Indonesia. Sistem kekerabatan masyarakat Gorontalo yang hidup dalam suasana kekeluargaan sangat mendukung pelaksanaan upacara adat ini.

Berbagai ragam tahapan uapacara adat pernikahan akan disajikan berikutnya pada edisi Desember 2014.

Sumber tulisan :

1. Harto Juwono dan Yosephine Hutagalung, Pemrakarsa : H. Aleks Sato Biya, Limo Lo Pohalaa : Sejarah Kerajaan Gorontalo, Yogyakarta, Ombak, 2005.
2. Pemda Kabupaten Gorontalo; Forum Pengkajian Isam Al-Kautsar ; Tokoh Adat Duluwo limo lopohalaa: Tim Akademis Gorontalo,: Pohutu Aadati Lo Hulondalo, Tata Upacara Adat Gorontalo (Hasil Seminar Adat)
: Gorontalo, 2007.
3. Drs. Lies Sudibyo, MH, Drs. Agus Sudargon M.Si, Dra. Titik Sudiatmi M.Pd, Drs Bambang Triyanto, MM ; Ilmu Sosial Budaya Dasar, Yogyakarta, CV. Andi Offset, 2013.

Berita Lainnya
Senin, 5 September 2016, 07:57

MEMUTUS MATA RANTAI GAGAL PAHAM MANASIK LEWAT “MADRASAH BERMANASIK”