Kamis, 15 Desember 2016, 08:59

MEMBANGUN MASYARAKAT TAMADDUN (BERADAB) DENGAN 5 NILAI DASAR BUDAYA KERJA

Oleh: Dr. Waris Masuara, S.Ag. M.H.I

Di penghujung 2014 Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin meliris konsep 5 nilai dasar budaya kerja, (Integritas, Profesionalitas, Inovatif, Tanggungjawab dan Inovatif). Konsep ini selanjutnya menjadi brand dalam membangun Aparatur Kementerian Agama yang bersih dan berwibawa. Perwujudannya adalah membangun manusia ber-tamaddun (beradab) yang dilandasi oleh nilai-nilai ketuhanan. Maka siapapun yang menegakkannya berarti memelihara komponen tafaqahu fi al-diin.

INTEGRITAS
Integritas (integer) berarti bilangan bulat atau entitas yang lengkap, jadi seorang manusia harusnya memiliki sifat integritas atau kejujuran. Integritas menjadi pondasi awal dalam belajar Islam, seperti dikatakan dalam sebuah hadis: "Ketika datang seorang Arab Baduy yang meminta nasihat kepada Nabi Muhammad saat dia akan belajar Islam, Rasul menjawab dengan sangat sederhana, yakni "jangan berbohong". Seketika itu sahabat yang berada di sekeliling nabi bertanya dan heran, sebab ketika mereka belajar Islam tidak se-sederhana itu. Nabi menjawab, dengan jujur dia akan berfikir berkali-kali jika hendak melakukan maksiat, sebab ketika ditanya dia harus menjawab dengan jujur.

Berbeda dengan sikap hipocricy atau kemunafikan. Sifat ini yang menjadi salah satu penyebab murka Tuhan, murka dalam hal ini bukan berarti marah-marah atau ngomel seperti manusia, tetapi dicabut-Nya kedamaian dari dalam jiwa manusia sehingga menjadi kosong, tersingkir dan sengsara. Sebuah pandangan mengatakan "neraka yang paling berat untuk manusia adalah keterasingan dari sumbernya".

Dalam hal budaya kerja, Integritas adalah menciptakan keselarasan antara hati, pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik dan benar. Integritas dalam konteks ini merupakan gerakan kembali ke fitrah. Semangat integritas merupakan perwujudan dari kehendak Tuhan. Manusia dalam Islam disebut sebagai Insan yang berarti unsur keintiman dengan Tuhan. Orang yang memiliki integritas, di mata Tuhan adalah mereka yang melaksanakan apa yang dikatakan. Dalam istilah Haidar "manusia yang bisa menjaga integritasnya adalah mereka yang rindu dengan sumbernya yaitu Tuhan".

Jalaludin Rumi mengibaratkan hubungan dan kerinduan tersebut seperti seruling yang terbuat dari bambu dapat mengeluarkan suara menyayat hati karena dia tercerabut dari kelompoknya, oleh karenanya dia memiliki kerinduan yang dalam terhadap kelompoknya. Demikian juga dengan manusia, hakikatnya akan tetap merasa sepi kendati sudah memiliki banyak teman,menurut William James disebabkan oleh karena manusia tidak akan pernah merasa cukup sebelum dia intim dengan kawan agungnya (the greatest friend) yaitu Tuhan. Dalam konsep "hablumminannas" hakikat integritas yang ingin diwujudkan adalah membangun keterjaminan perdamaian.

Tidak boleh ada ke-egoisan kelompok, sementara yang lain merasa tidak nyaman. Integritas bukan sebuah konsep kosong dan hampa. Ia akan tegak jika diiringi oleh keberanian melakukan perubahan. Membangun integritas pribadi berarti membangun citra dan nilai-nilai positif yang ada dalam dirinya. Hakikat integritas dalam Islam, adalah membangun umat yang jauh dari kegaduhan. Karena itu gerakan radikalisme dan terorisme bukan representasi dari wajah Islam. Meski oleh "musuh-musuh" wajah Islam selalu dikedepankan sebagai "agama perang".

Menggiring opini ke arah yang lebih mengekspos cerita-cerita seputar perang, dari perang Badar, Uhud, Khandak dan lain-lain. Padahal jika dilihat lebih detail, selama 23 tahun Muhammad menjadi Nabi, tidak lebih dari hanya 60 hari untuk berperang, sementara ribuan hari diluar perang digunakan beliau untuk berbuat baik, dan jujur. (Haidar)

PROFESIONALITAS
Di mata masyarakat, jenis profesi dapat dikategorikan sebagai definisi diri dan latar belakang seseorang. Sebagai seorang ahli maka iaharus paham dengan nilai sebuah etika. Jika etika bekerja di kesampingkan, maka gugurlah esensi profesi.Orientasi profesi yang hanya hasil akhir berupa uang,maka seringkali harta menjadi pemicu runtuhnya nilai kejujuran, kebaikan, dan kemaslahatan dalam hal bekerja.

Dalam hal "profesionalitas" ada sebuah dilema makna. Seolah kata tersebut hanya diperuntukkan khusus golongan tertentu, misalnya guru profesional, dan sebagainya. Sementera profesi petani, terkesan "diremehkan", bahkan dianggap bukan sebuah profesi, maka jarang kita menemukan istilah petani profesional. Dalam bahasa Indonesia kata sifat kadang-kadang bisa berfungsi menjadi kata kerja, guru profesional dapat berarti kesempurnaan dalam bekerja.

Maka setiap pekerjaan yang mendatangkan kesempurnaan dan kemaslahatan berarti profesi. Dalam sebuah adagium dikatakan "Work is where you play", (bekerja adalah tempat dimana kamu bermain). Ritual kerja yang dilakukan menjadi enak, nyaman, dan tiada beban jika seseorang mengerjakannya seperti halnya saat sedang bermain. Maka orientasi orang profesionalitas selalu berpikir, berpendirian, kerja keras, jujur, disiplin dan loyalitas dalam mewujudkan nilai kemaslahatan. As-Syatibi mengatakan kemaslahatan merupakan faktor penting dari Maqashid as-Syaria (tujuan syaria).

Dalam konsepsi masyarakat modern, menghormati dan menghargai kelebihan dan profesi orang lain adalah sikap dan karakter orang yang profesional. Seseorang menjadi profesional, jika ditempatkan pada tempat dan posisi yang tepat, (the right man on the right place). Dalam bahasa Al-Quran disebutkan "setiap orang bekerja sesuai keadaannya masing-masing, dan Allah mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (Qs. Al-Isra). Maka memaksakan seseorang tidak berdasar pada keahliannya adalah bentuk "pembangkangan" terhadap sunatullah. Profesionalitas harus melahirkan etos kerja tinggi, dan tak pernah putus asa.

Rasulullah bahkan memberikan spirit dalam hadis beliau: "Apabila salah seorang kamu menghadapi kiamat sementara di tangannya masih ada benih hendaklah ia tanam benih itu". Begitulah Islam menjaga benih dan nilai dasar kerja agar umat Islam agar selalu tampil lebih unggul dari umat lain. Sikap profesionalitas tidak bisa hanya karena tuntutan kekuasaan dan pemenuhan kebutuhan, tetapi harus membumi dan membudaya di atas semangat keberagamaan. Inilah yang dimaksud Ismail al-Faruqi "a religion of actiondari padaa religion of faith". Artinya peradaban hanya bisa ditegakkan melalui etos kerja tinggi dan profesionalitas yang berorientasi pada integritas moral.

INOVATIF
Istilah inovatif adalah sebuah kata yang sudah amat terbiasa didengar. Namun dalam tulisan ini perlu disodorkan secara mendalam tentang issu dan kaidah inovasi menurut pandangan Islam. Sebab! ruang-ruang inovasi yang bisa dikembangkan sesuai syariat Islam begitu luas, terlebih di tengah-tengah kehidupan sosial yang belum sepenuhnya mendasarkan pada ajaran agama.

Bila mengutip firman-Nya dalam surat Al-Hujurat: 13. Wujud penciptaaan Allah yang beragam baik dari warna kulit, raut muka, postur tubuh, hingga munculnya bahasa dan budaya yang beragam, telah menunjukkan betapa kreatifnya Sang Maha Pencipta. Inipun belum termasuk bagaimana manusia tadi dilengkapi dengan sistem kerja yang rumit dan teramat canggih, sehingga organ-organ tubuh bisa berfungsi dengan maksimal. Manusia tentu mempunyai sifat tersebut, meskipun dalam kadar yang jauh berbeda dengan kreatifitas Tuhannya.

Ketika Alexander Graham Bell, sang penemu telepon ditanya, apakah mungkin suatu saat nanti manusia bisa bertelepon tanpa kabel? "Ia mengatakan tidak mungkin". Andaikata ia hidup kembali dan menyaksikan realitas saat ini, pasti ia akan terkaget-kaget, heran dan bercampur haru, ia bakal tidak menyangkal penemuannya telah mengalami kemajuan luar biasa. Inilah bukti bahwa manusia memiliki kemampuan berinovasi, sebuah kekuatan yang telah "di ilhamkan" oleh Sang Kreator kepada hamba-Nya.

Tidak ada manusia berinovasi tanpa proses berpikir kreatif. Sebab kreativitas berpikir akan selalu melahirkan inovasi-inovasi baru.Dalam Islam inovasi adalah wilayah muamalah, sehingga di lapangan terbuka ruang inovasi yang sangat luas. Dalam ibadah menambah/mengurangi/mengubah tata cara dan rukun adalah bidah. Oleh sebab itu dalam ibadah tidak memerlukan inovasi.

Dalam hal aqidah/ibadah, tidak boleh melakukan sesuatu kecuali yang diperintahkan. Maka inovasi dalam konteks muamalah adalah menyempurnakan yang sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik. Artinya inovasi tidak harus benar-benar orisinil. Maka mengamati, meniru dan memodifikasi adalah karakter manusia yang kreatif. Ini bukan karakternya malaikat, karena malaikat tidak diberi kemampuan untuk berinovasi.

Dengan alasan inilah kemudian manusia "dikukuhkan" sebagai khalifah di muka bumi. Manusia bermental inovator sejati, adalah mereka yang senantiasa menaburkan perubahan dan peradaban yang rahmatan lil alamin.

TANGGUNGJAWAB
Dalam kamus bahasa Indonesia tanggungjawab bisa bermakna kewajiban memikul segala sesuatu. Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan mengabdian atau pengorbanannya.Umar bin Abdul Azis saat diangkat menjadi khalifah, beliau hampir tidak bisa keluar dari kamarnya, karena menangis, sambil merenungi betapa besarnya tanggungjawab pemimpin, di akhirat jika berbuat zhalim.

Dalam konteks Islam, zhalim bukan sekadar perbuatan merugikan orang lain dalam bentuk fisik, tetapi membatasi dan menghalangi inovasi dan kreatifitas seseorang adalah bentuk kezaliman, bahkan ia merupakan kezaliman yang nyata. Maka tidak heran para salafus sholih banyak yang menolak jabatan sekiranya ia khawatir tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik.

Tanggungjawab tidak sebatas keterampilan dalam memimpin, tetapi lebih dari itu, menjaga suasana "kebatinan" bawahan agar tetap merasa dberlakukan secara profesional dan proporsional. Al-Quran mencela orang-orang yang melakukan dosa dengan alasan pimpinannya menyuruh berbuat sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai kemaslahatan. Maka meskipun itu perintah, jika bertentangan nilai-nilai keadilan dan kebenaran, maka tidak ada kewajiban untuk menaati.

KETELADANAN
Keteladanan (uswah dan qudwah)menurut Al-Ashfahani adalah "suatu keadaan ketika seorang manusia mengikuti manusia lain, apakah dalam kebaikan, kejelekan, atau kejahatan. Dalam Mujam Muqayyis Lughah Ibnu al-Faris ibn Zakaria, kata uswah dan qudwah adalah ikutan atau mengikuti yang diikuti. Dalam Al-Quran kata teladan diibaratkan dengan kata-kata uswah yang kemudian dilekatkan dengan kata hasanah, sehingga menjadi padanan kata uswatun hasanah yang berarti teladan yang baik. Dalam ilmu pendidikan keteladanan adalah bagian metode pendekatan dalam mendidik dan mengasuh anak-anak.

Dalam berlangsungnya proses pendidikan metode keteladanan dapat diterapkan dalam dua bentuk, yaitu secara langsung (direct) dan secara tidak langsung (indirect). Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa penerapan metode keteladanan dalam proses belajar mengajar dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung (direct) maksudnya bahwa pendidik benar-benar mengaktualisasikan dirinya sebagai contoh teladan yang baik bagi anak didik. secara tidak langsung (indirect) yang maksudnya, pendidik memberikan teladan kepada peserta didiknya dengan cara menceritakan kisah-kisah teladan baik itu yang berupa riwayat para nabi, kisah-kisah orang besar, pahlawan dan syuhada, yang bertujuan agar peserta didik menjadikan tokoh-tokoh tersebut sebagai suri teladan dalam kehidupan mereka.

Salah satu syarat pendidik menurut Ahmad Tafsir adalah harus berkesusilaan. Hal ini dikarenakan pendidik tidak mungkin memberikan contoh-contoh kebaikan bila ia sendiri tidak baik perangainya. Ibnu Sina mengatakan; "guru harus memiliki sopan santun dan perangai yang baik". Namun dalam kehidupan modern keteladan semakin runtuh, terutama di kalangan penguasa. Rakyat telah kehilangan figur. Kepada siapa mereka harus berkaca. Kekuasaan telah malanggengkan mereka untuk menindas orang lain. Kesantunan tidak boleh hanya dalam bentuk lahiria, tetapi yang terpenting kesantunan harus tergambar melalui kata dan perbuatan, pikiran dan berprasangka baik terhadap orang lain.

Maka pemimpin sejati adalah mereka yang mampu memberikan keteladanan lahir dan batin kepada semua manusia. Inilah keteladananyang dicontohkan Rasulullah yang digambarkan dalam QS. Al-Fath ayat: 29, bahwa: "Muhammad itu adalah utusan Allah SWT yang orang-orang bersamanya adalah keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka, kamu melihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah SWT. Maka siapapun yang menegakkan kelima nilai di atas berarti memelihara komponen tafaqahu fi al-diin".

Penulis Guru MAN Model