Senin, 5 September 2016, 07:57

MEMUTUS MATA RANTAI GAGAL PAHAM MANASIK LEWAT “MADRASAH BERMANASIK”

Oleh: Dra. Hj. Maryam Hamid, M.Pd.I

Abstrak

Secara garis besar artikel ini menjelaskan point besar diantaranya pengertian manasik. Kata manasik yang diambil dari fiil madi nasaka yansuku naskan itu digunakan dalam empat arti dan makna. Pertama digunakan dalam arti peribadatan. Kedua digunakan dalam arti penyembelihan. Ketiga, digunakan pada pelaksanaan haji dan umrah. Sementara keempat digunakan semua agama dalam hal beribadatan, baik Islam, Yahudi dan Nasrani.

Secara garis besar manasik adalah sebuah peribadatan hamba kepada Allah Swt yang maknyanya dilekatkan pada ibadah haji. Tetapi dalam pelaksanaan ibadah haji di tanah suci Mekkah jamaah haji tidak terkecuali dari Indonesia sering mengalami kendala. Salah satu kendalanya yaitu kegagalan memahami materi pengetahuan haji. Dengan persoalan inilah Kementerian Agama provinsi Gorontalo menawarkan solusi memutus mata rantai gagal paham manasik dengan program madrasah bermanasik.

A.Pendahuluan

Potret semangat berangkat haji bagi masyarakat Indonesia sangat tinggi dan patut diapresiasi. Sebagai negara yang mayoritas penduduk beragama Islam, di setiap tahunnya selalu bertambah jumlah masyarakat yang ingin menunaikan ibadah haji. Tentunya untuk mewujudkan keinginan dan harapan mereka akan ibadah ini, maka pemerintah berkewajiban melakukan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan dengan menyediakan fasilitas kemudahan, keamanan, dan kenyamanan yang diperlukan oleh setiap warga negara yang menunaikan ibadah haji. Penerbitan buku-buku paket bimbingan haji merupakan salah satu substansi bentuk pembinaan tehadap jamaah haji yang ditetapkan dalam Undang-Undang penyelenggaraan haji. Buku-buku tersebut diberikan kepada calon jemaah haji Indonesia sebelum keberangkatannya ke tanah suci, terdiri dari 4 macam judul buku diantaranya Panduan Perjalanan Haji, Bimbingan Manasik Haji, Hikmah Ibadah Haji, serta Doa dan Zikir Ibadah Haji, yang diharapkan oleh pemerintah bisa menjadi acuan pokok didalam pelaksanaan ibadah haji.

Bagi masyarakat Indonesia haji merupakan sebuah perjalanan spritual yang sangat istimewa, di dalamnya penuh dengan makna-makna hakiki sebuah peribadatan. Perpaduan antara ibadah batiniah dan ibadah jasmaniah yang sarat makna. Gerakan-gerakan ritualnya menyiratkan keindahan dimensi spritual yang terkadang sulit ditangkap oleh nalar manusia, namun juga penuh dengan keteladanan yang tidak akan luruh di ditelan zaman (Nidjam: 2006).

Setiap tahun jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia berduyun-duyun untuk memenuhi panggilan suci ini. Dengan meningkatnya jumlah jamaah haji, maka menjadi sebuah keharusan menangani persoalan haji secara serius. Karena peran penanganan jamaah haji yang tepat dan mumpuni sangat penting dalam menopang kelancaran pelaksanaan ibadah haji.

Kisah tentang perjalanan jemaah haji di tanah suci yang mengalami kendala sering kita dengar, bahkan tidak sedikit diantara para jemaah haji tidak dapat berbuat apa-apa ketika berlangsungnya salah satu rukun haji. Berbagai faktor muncul atas kegagalan tersebut, sebut saja minimnya pengetahuan tentang manasik haji, dikarenakan jemaah haji tidak mengikuti manasik haji yang dilaksanakan, kalaupun ikut kegiatan manasik haji tidak optimal menangkap dan memahami materi yang disampaikan pembimbing haji. Orang yang sudah pernah melaksanakan ibadah haji pun terkadang masih kebingungan ketika berada di tanah suci, apalagi bagi yang baru petama kali melaksanakan ibadah haji. Hal inilah yang menjadi kendala yang serius kepada jemaah haji kita di tanah air.

Upaya agar tidak terulang kisah yang sama setiap tahun, perlu ada usaha dari pemerintah memutus mata rantai kegagalan paham manasik haji bagi jemaah haji Indonesia. Kegiatan manasik rutin dilaksanakan ketika musim haji tiba, namun realitas menunjukkan angka yang tidak sedikit bagi jemaah haji ketika berada di tanah suci mengalami masalah. Selama ini materi tentang manasik haji sekedar disampaikan ketika musim haji datang tanpa ada pembumian ilmu tentang perjalanan haji secara berkesinambungan.Padahal menggaungkan materi manasik perlu dilaksanakan ditengah-tengah kehidupan masyarakat, lebih-lebih dilembaga pendidikan sekolah atau madrasah.

Kementerian Agama provinsi Gorontalo melalui bidang penyelenggaraan haji dan umrah menyusun pedoman dan silabus dengan judul Madrasah Bermanasik. Tujuan program tersebut adalah memberikan pengetahuan kepada siswa madrasah tentang tata cara pelaksanaan ibadah haji sehingga kedepan dapat menciptakan jemaah haji yang memahami dan menguasai ilmu manasik haji dan umrah dengan tepat. Sebenarnya usaha Kementerian Agama provinsi Gorontalo sekilas terlihat belum bisa menghasilkan sumber daya manusia yang memahami manasik haji yang baik dalam waktu cepat untuk musim haji tahun depan. Meskipun demikian program madrasah bermanasik menyimpan harapan besar untuk generasi jemaah haji Indonesia ditahun-tahun mendatang agar sejarah tidak akan mencatat berulang-ulang kisah buruk jemaah haji di tanah suci.

Berdasarkan latar belakang penulisan ini, penulis memahami secara obyektif bahwa program madrasah bermanasik adalah upaya pemerintah dalam rangka memutus mata rantai gagal paham manasik. Hal tersebut terlihat program pada Kementerian Agama provinsi Gorontalo yang telah melaunching madrasah bermanasik dan telah melakukan pelatihan bagi Intruktur pemanasik Kabupaten/Kota dan memasukkan praktek manasik haji sebagai kegiatan ekstra Kurikuler diseluruh madrasah di Gorontalo.

B.Pengertian Manasik

Kata manasik yang diambil dari fiil madi nasaka yansuku naskan itu digunakan dalam empat arti dan makna. Pertama, dapat diartikan sebagai peribadatan (ibadah) secara umum, ini seperti pengertian dalam firman Allah: Katakanlah; sesungguhnya shalat, ibadah (nusuk), kematian dan kehidupanku itu adalah menjadi otoritas Allah yang menguasi alam semesta. (Qs. al-Anam 6: 163).

Kedua, bisa berarti sembelihan yang ditujukan untuk mendekatkan diri (taqarrub) pada Allah dalam kaitannya dengan ibadah haji. Ini seperti tersebut dalam firman Allah: Sempurnakan haji dan umrah itu karena Allah. Jika engkau terkepung maka sembelihlah binatang ternak (hadyu) yang mudah didapat. Dan janganlah engkau memotong rambut sehingga binatang ternak tersebut sampai ke tempatnya. Barang siapa di antara engkau itu jatuh sakit atau rambut kepalanya itu gatal maka ia wajib membayar denda: berupa puasa atau sedekah atau sembelihan (nusuk) (Qs. al-Baqarah 2: 196).

Ketiga, bisa berarti peribadatan khusus yang terkait dengan ibadah haji dan umrah yakni seluruh amalan yang terkait dengan ibadah haji dan umrah baik yang rukun, wajib dan sunah itu dapat disebut sebagai manasik. Pengertian inilah yang dimaksud dalam firman Allah: Jika engkau telah menyelesaikan seluruh rangkaian manasik, maka berzikirlah pada Allah seperti Anda mengingat nenek moyang engkau atau lebih dahsyat dari pengingatan engkau pada nenek moyang itu. (Qs. al-Baqarah 2: 200).

Keempat, manasik atau mansak bisa berarti cara beribadah yang dilakukan oleh semua umat beragama, baik itu Kristen, Yahudi, Hanifiyah maupun Islam. Pengertian ini bisa dipahami dari firman Allah: Setiap bangsa (umat) Kami ciptakan cara ibadah (mansakan) agar mereka dapat menyebut/berzikir asma Allah bagi diterimanya rizki berupa binatang ternak yang Allah berikan pada mereka; maka Tuhan engkau itu adalah Tuhan yang satu. (Qs. al-Hajj 22: 34).

Dari pengertian manasik sesuai bunyi teks al-Quran, secara garis besar dapat dipahami bahwa manasik merupakan rangkaian ibadah, lebih khusus ibadah haji. Jika demikian pengertian manasik maka pembinaan manasik yang dilaksanakan di tanah air perlu diseriusi, karena pembinaan ini adalah pembinaan ibadah.Intinya seluruh masyarakat beragama Islam baik yang ikut berangkat haji maupun yang belum memiliki kesempatan perlu mendapatkan pembinaan manasik haji. Namun yang menjadi persoalan kegiatan pembinaan haji di Indonesia terjebak pada kegiatan seremonialnya saja yang melahirkan minimnya pengetahuan tentang manasik.

C.Madrasah Bermanasik

Penyelenggaraan ibadah haji memiliki banyak unsur dan melibatkan banyak instansi untuk mengelolanya secara profesional (Bahrul Hayat). Tidak terkecuali instansi pendidikan yang disebut sekolah atau madrasah. Supaya ada sinergitas tentang pengetahuan tentang haji. Dalam artian pengetahuan tentang haji tidak sekadar dipelajari ketika akan berangkat haji tetapi jauh sebelum berangkat ke tanah suci, pengetahuan tentang perhajian tersebut sejak dini ditanamkan kepada generasi anak-anak di usia sekolah.

Alangkah efektif dan tentu tidak akan sia-sia, Kementerian Agama provinsi Gorontalo memberi kesempatan lebih dini kepada siswa mulai dari jenjang madrasah ibtidaiyah sampai madrasah aliyah, melalui ektra kurikuler muatan lokal program madrasah bermanasik setidaknya dapat memberikan rangsangan pendidikan untuk membantu menumbuhkan dan mengembangkan segala potensinya. Dalam hal ini, bentuk pendidikan tersebut berupa pengenalan mengenai ibadah haji. Hal ini bisa dilakukan melalui bentuk pengenalan, dengan cara memberikan gambaran mengenai apa dan bagaimana sebenarnya ibadah haji itu serta rangkaian kegiatan apa yang harus dilakukan didalam prosesi ibadah tersebut. Dengan adanya pemberian rangsangan ini, tentu kemampuan para siswa juga akan cepat terangsang daya pikirnya, dan mereka akan selalu berusaha mencari tahu jawaban pertanyaan mengapa tentang materi (pelajaran) yang diberikan, berkaitan dengan ibadah haji.

Meminjam pemikiran Leon Eisenberg, otak seorang anak dapat dianalogikan seperti sebuah komputer. Semakin banyak "input" yang dimasukkan ke dalam otaknya, maka akan semakin banyak dan semakin baik "output" yang dihasilkan. Ini artinya, bila anak diberi kesempatan yang banyak untuk "memprogram" otaknya yaitu dengan memberi masukan sensorik dan motorik maka kecerdasannya akan jauh lebih berkembang.

Dengan upaya/langkah awal yang baik melalui pemberian rangsangan pendidikan pengenalan ibadah haji kepada para siswa madrasah, nantinya bisa sangat berarti bagi pengetahuan dan pengembangan seluruh potensi siswa kelak jika mereka telah dewasa dan berkeinginan (niat) untuk melaksanakan ibadah haji.

Perlu disadari bahwa materi seputar ibadah haji ketika ditanamkan kepada para siswa yang notabenenya sangat sensitif untuk menerima materi-materi pelajaran dan tidak terkecuali manasik haji merupakan langkah yang cukup tepat. Sebab di masa sekolah ini mereka disebut sebagai masa dimana terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama bagi siswa dalam mengembangkan kemampuan fisik/motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, disiplin, kemandirian, seni, moral, dan nilai-nilai agama. Bahkan sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk membuktikan, bahwa usia anak-anak memiliki kemampuan intelegensi yang sangat tinggi. Maka hal tersebut sebaiknya tidak boleh diabaikan atau dianggap hal biasa, dan seharusnya ada suatu upaya pendidikan yang memadai pada masa itu.

Jika program madrasah bermanasik ini berjalan dengan baik dan benar diseluruh madrasah di Gorontalo, dapat dipastikan akan lahir generasi-generasi umat Islam yang akan merubah cerita sejarah tentang perhajian, dan itu artinya memutus mata rantai gagal paham manasik haji.

D. Penutup

Setiap tahun lebih dari dua ratus ribu umat Islam Indonesia menunaikan ibadah haji. Tidak sedikit diantara mereka yang mengalami kendala serius ketika berada di tanah suci, salah satu masalahnya adalah kegagalan mereka dalam memahami materi manasik haji. Salah satu solusi yang ditawarkan Kementerian Agama provinsi Gorontalo tentang madrasah bermanasik merupakan langkah awal yang menyimpan harapan masa depan untuk menciptakan sumber daya manusia yang handal tentang keilmuan manasik haji. Tentu program tersebut membutuhkan keseriusan yang berkesinambungan bagi seluruh pemangku kepentingan.

Daftar Pustaka

Departemen Agama RI,al-Quran dan Terjemahan,(Jakarta: Syamil Quran 2007)

Hayat, Bahrul, Dinamika dan Perspektif Haji Indonesia, (Jakarta: Dierktorat Jendral Penyelenggaraan Haji dan Umrah, 2012)

Nidjam, Achmad &Hanan, Alatief, Manajemen Haji, (Jakarta: Mediacita, 2006)

Kanwil Kementerian Agama Provinsi Gorontalo, Pedoman Dan Silabus Madrasah Bermanasik, (Tahun 2014)

Berita Lainnya
Jumat, 9 Desember 2016, 14:15

MENYIBAK PROSESI ADAT PERNIKAHAN GORONTALO